July 29, 2021 8:13 am

Cerita Ibu-ibu Jadi Relawan Bantu Warga Kebanjiran di Pekalongan

Hari Jumat (19/2/2021), sejumlah wanita mendatangi lokasi pengungsian di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Kedatangan mereka ke lokasi banjir adalah untuk memberikan bantuan. Bukan hanya bantuan sembako, sandang dan obat obatan, mereka juga turut menghibur warga yang telah dua minggu mengungsi.

Salah satu relawan tersebut, Ida Rosiyana (42) mulai menghibur anak anak dengan mengajak menyanyi dan menari di lokasi pengungsia. Dan bocah bocah pengungsi mengikuti gerakan wanita yang akrab disapa Anna ini sambil menyanyi dengan gembira. Setidaknya dengan kegiatan tersebut lara hati anak anak tersebut sedikit terobati.

Sementara rekan Anna, Mei Melati (42) menghibur ibu ibu yang berada di posko pengungsian agar terus bersabar. Anna dan Mei hanyalah dua orang ibu rumah tangga, mereka meninggalkan kegiatan sehari harinya untuk menjadi relawan yang turut membantu para korban banjir. Bersama Paguyuban Smanco 91 & Rekan (P91&R) keduanya ikut menembus lokasi bencana menemui warga di posko pengungsian.

Mereka bersama sejumlah wanita lainnya dari Kabupaten Pemalang menjadi relawan paguyuban. Diantaranya Mafahiro (48), Kristiyani (49) dan Tuti Muliasih (49). Dalam dua hari ini mereka menyalurkan bantuan ke lokasi banjir di Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Pemalang dari donatur yang menitipkannya ke P91&R. "Dua hari ini saya fokus ikut membantu saudara saudara yang terkena bencana banjir," ujar Anna.

Dalam dua hari itu ibu ibu ini menyalurkan bantuan di dua kabupaten yang terdampak banjir yaitu Pekalongan dan Pemalang. Di Pekalongan lokasinya ada dua kecamatan yaitu Tirto dan Wiradesa, sementara di Pemalang di Kecamatan Ulujami. Meski beda kabupaten letak tiga kecamatan itu berdekatan. Sementara Tuti Mulyasih mengatakan, mereka dengan ikhlas merekan diri menjadi volunteer.

"Lilahitaala, kami hanya ingin mereka yang menjadi korban penderitaannya diringankan," kata Tuti Mulyasih. Tuti sendiri sementara menghentikan usaha kateringnya untuk turut bergabung bersama relawan yang lain. Dia mengaku dapat kepuasan hati setelah turut membantu para pengungsi tersebut.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Pekalongan sudah lebih dari 2 minggu, namun hingga sekarang banjir belum surut dan bahkan ketinggian air terus naik. Sejak diguyur hujan dari hari Kamis (18/2/2021) sore hingga sekarang Sabtu (20/2/2021) air banjir terus naik. Terlihat motor yang melintas di lokasi mengalami mogok, bahkan ada warga yang meletakkan motor di tempat yang lumayan tinggi.

Akses jalan lumpuh, warga yang akan ke Desa Jeruksari harus menggunakan perahu. Ia mengatakan, akses jalan menuju rumah saja hanya bisa menggunakan perahu atau jalan kaki. "Motor warga diparkirkan di halaman kampus STIMIK Pekalongan yang lumayan tinggi. Terus, kalau ke rumah naik perahu."

"Di desa saya sudah seperti wahana wisata air baru, karena transportasinya menggunakan perahu," katanya. Ketinggian air terus tinggi dan bahkan ia sudah mengungsi selama 12 hari ke rumah saudaranya. "Ini pulang ke rumah mau ambil baju, keluarga juga masih ada yang bertahan di rumah," imbuhnya.

Bagas menjelaskan, banjir di dalam rumah ketinggianya 50 centimeter dan di luar rumah satu perut orang dewasa. "Ditambah aliran listrik padam 3 hari ini. Sampai sekarang saja banjir belum surut, ditambah hujan yang terus menerus terjadi," jelasnya. Sementara itu, Kalak BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Rahardjo mengatakan total pengungsi banjir di Kabupaten Pekalongan berjumlah 2.744 jiwa.

Menurutnya, semua pengungsi menyebar di 4 kecamatan yang ada di wilayah Kota Santri. "4 kecamatan ini berada di Kecamatan Wiradesa, Siwalan, Wonokerto, dan Tirto. Jumlah jiwa yang terdampak banjir ada 45.753 orang," kata Kalak BPBD Kabupaten Pekalongan Budi. Budi mengungkapkan, data terus di update tiap hari karena hujan masih terjadi di Pekalongan.

"Ketinggian air banjir sendiri saja bervariasi, dari 20 centimeter hingga 80 centimeter," ungkapnya. Cuaca sendiri, saat ini di Pekalongan diguyur hujan dengan intensitas sedang. (Hendra Gunawan/Indra Dwi Purnomo)

Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *